Di Negeri Junjungan Bikin Film Tak Perlu Anggaran Besar
Article

Pekanbaru - Dulu, untuk membuat sebuah film diperlukan anggaran yang tidak sedikit bahkan bisa mencapai angka miliaran rupiah. Tapi sekarang, dengan teknologi yang semakin canggih membuat film bagi kalangan yang pas-pasan tidak lagi menjadi mimpi di siang bolong. Kenyataan itulah yang kami temui di Desa Sungai Alam Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Di desa seluas lebih kurang 1.500 hektar itu tumbuh berbagai komunitas kreatif. Tidak saja Komunitas Pembuat Film, ada juga Komunitas Pemain Gambus, Kampung Cerita Anak-anak hingga Komunitas Maghrib Mengaji.

Banyaknya komunitas kreatif yang tumbuh dan berkembang di Desa Sungai Alam menjadi magnet tersendiri bagi kami Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Riau untuk datang berkunjung. Bertolak dari Pekanbaru Ibukota Provinsi Riau menuju Kabupaten Bengkalis yang berjuluk Negeri Junjungan itu memakan waktu lebih kurang 4 s/d 5 jam kalau di penyebrangan roro Sungai Pakning tidak terjadi antrian panjang.

Sampai di Desa Sungai Alam, kami pun disambut hangat oleh Kepala Desa Pak Ahmadi Bersama tokoh penggerak komunitas-komunitas kreatif yang akrab dipanggil Ustad Andri. Komunitas pertama yang kami temui adalah Komunitas Pembuat Film, komunitas ini dikomandoi Zulkifli yang sekaligus seorang sutradara. Zulkifli Bersama para artis dan krunya sudah menunggu kami di sebuah panggung berukuran lebih kurang 4 x 5 meter, Nampak wajah-wajah ceria menyambut kehadiran kami.

Zulkifli yang akrab disapa Bang Zul itupun memulai ceritanya. Menurut pria yang terlihat sangat paham tentang teknologi dan dunia perfilman ini, semua berawal dari hobi dan kecintaan terhadap dunia seni peran. Dengan modal seadanya, Bang Zul mengajak rekan-rekannya yang juga tertarik dengan dunia peran untuk membuat film. Lalu setengah nekad, Bang Zul dan rekan-rekannya yang bergerak dibawah BB Plus Managemen pada tahun 2013 berhasil memproduksi Film berjudul “Kain Buruk Pusaka Emak”. Keberhasilan itu membuat mereka semakin bersemangat hingga sampai tahun 2017  sudah empat judul film yang berhasil mereka produksi. Tiga lainnya adalah “Surut Menyambut Pasang”, “Lukisan Cinta di Negeri Junjungan”, dan “Bunga Tak Sekuntum”. Film-film ini banyak mengangkat budaya dan tradisi masyarakat Melayu Bengkalis era 70-an. Kita selipkan juga pesan-pesan moral terutama untuk para generasi muda, “ungkap Bang Zul”.

Bang Zul mengakui meski hingga kini belum ada satupun sponsor yang melirik, tapi semangat untuk tetap berkarya terus menggelora. Apalagi paparnya beberapa film yang sempat diunggah di media sosial seperti facebook ternyata mendapat sambutan yang luar biasa, ini ditandai dengan puluhan ribu penonton. “Alhamdulillah baru-baru ini juga ada bioskop yang tertarik bekerjasama dengan kami” tambah Bang Zul sembari berharap karya-karyanya semakin diminati masyarakat.

Kehadiran kami di Negeri Junjungan semakin bermakna karena juga didampingi oleh salah seorang anggota DPRD Bengkalis Bapak H. Azmi R. Fatwa. Aktivis dan politisi yang punya jaringan dimana-mana itu bahkan bertekad mempromosikan film-film karya BB Plus Managemen hingga ke luar negeri. (Kabid.IKP)

Berita Terkait

Tidak ada data!!